Ternyata Gen Ini Yang Mengubah Rumput Menjadi Jagung!

Bagaimana Cara Rumput Bertransformasi Menjadi Jagung

Jagung, mungkin Anda mengenal jagung sekilas saja, hanya salah satu tanaman pangan yang banyak ditanam. Nikmat dibakar menjadi jajanan jagung bakar.
Coba renungkan sejenak, pernahkah Anda berfikir bagaimana tanaman pangan yang memiliki nama ilmiah Zea mays ini diciptakan?

Ya, Tuhan memang menciptakan jagung seketika, tapi, sekelompok ilmuwan dari Genetics Society of America ini berhasil mengungkap teka-teki kecil dari tuhan, yakni bagaimana jagung diciptakan dari rumput biasa!
Teosinte (Zea africana) adalah kerabat jagung yang lebih mirip rerumputan, yakni memiliki percabangan dan ‘biji’ jagungnya diselimuti oleh beberapa lapis kulit buah.
Hal itu berbeda dengan kenampakan jagung pada umumnya, yang tidak memiliki percabangan dan ‘biji’ yang nampak ‘telanjang’. Coba perhatikan gambar berikut.
Perbedaan Morfologi Teosinte dan Jagung (Image Courtesy: http://learn.genetics.utah.edu/content/selection/corn/)
Lalu, apa saja faktor genetis yang bertanggung jawab pada evolusi teonsite purba yang lebih mirip rumput menjadi jagung yang kita kenal selama ini?

Gen Yang Bertanggung Jawab Mentransformasi Rumput Menjadi Jagung

TGA1 Gen Yang ‘Menelanjangi’ ‘Biji’ Teosinte Purba Menjadi Biji Jagung

Adalah gen TGA1, atau Teosinte Glume Architecture 1 disebut menjadi saklar dibentuk dan tidak-nya kulit buah pada biji teosinte dan nenek moyangnya, gen yang sama pula-lah penyebab ‘telanjangnya’ biji jagung. 
Perhatikan gambar berikut!
Perbedaan biji jagung dan teosinte (Image courtesy: http://learn.genetics.utah.edu/content/selection/corn/)
Nah, aneh kan? Jika pada dua organisme tersebut ada gen yang sama, mengapa berbeda kenampakannya?
Penyebabnya adalah mutasi!
Peneliti dari Genetics Society of America menyebutkan terdapat substitusi gen pada nukleotida penyusun TGA1, yakni pada sebuah alela, dimana pada teosinte, alela tersebut disusun oleh pengkode Lys (lisin) sedangkan pada jagung diganti oleh pengkode Asn (asparagin).
Perubahan susunan gen tersebut mengakibatkan di-stopnya aktivitas gen yang bertanggung jawab pada pembentukan kulit buah pada biji jagung, hingga jagung menjadi ‘telanjang’.

Sumber Pustaka

Beadle, G. W. (1980). The ancestry of corn. Scientific American, 242 (1), 112-119.

Doebley, J. Stec, A., Wendel, J., & Edwards, M. (1990). Genetic and morphological analysis of a maize-teosinte F2 population: Implications for the origin of maize. Proceedings of the National Academy of Sciences, 87, 9888-9892.

Doebley, J. & Stec, A. (1993). Inheritance of the morphological differences between maize and teosinte: comparison of results for two F2 populations. Genetics, 134, 559-570.

Doebley, J., Stec, A. & Hubbard, L (1997). The evolution of apical dominance in maize. Nature, 386, 485-488. (subscription required)

Kane, N. & Rieseberg, L. (2005). Maize genetics: the treasure of the Sierra Madre. Current Biology, 15 (4), R137-R139.

Wang, H., Nussbaum-Wagler, T., Li, B., Zhao, Q., Vigourous, Y., Faller, M., Bomblies-Yant, K., Lukens, L. & Doebley, J. (2005). The origin of the naked grains of maize. Nature, 436, 714-719.

The archaeological progression of maize photo (Fig. 122 in MacNeish, Richard S. Prehistory of the Tehaucan Valley, V.1 – evolutionary sequence from circa 5000 BC to circa AD 1500) is re-published here by permission of the Robert S. Peabody Museum of Archaeology.

Leave a Comment