REVITALISASI PRODUKTIVITAS PANGAN DENGAN BIBIT TAHAN CEKAMAN GARAM

Perubahan ekologi global akibat aktivitas industri manusia telah berdampak besar pada penurunan  produktivitas tanaman pangan dunia. Penyebab penurunan produktivitas tersebut antara lain  meningkatnya salinitas tanah. Prof. S. Shabala, dari Universitas Pensylvania US, dalam jurnal Cell Press  Trends in Plant Sciences mengungkapkan bahwa jenis-jenis tanaman halopfil (tahan dan mampu tumbuh optimum pada daerah dengan kadar garam tinggi) adalah jenis tanaman yang harus dikembangkan  secara kontinu untuk memenuhi kebutuhan dan ketahanan pangan.

“Kami menyarankan bahwa kita harus belajar dari alam melalui tanaman jenis halophytes. Jenis tanaman ini mengambil garam, tetapi dapat menyimpannya di tempat yang aman di dalam struktur seperti balon eksternal yang disebut salt bladders,”  Terang Prof. Shabala.

“Strategi ini tidak pernah dipikirkanoleh para pembudidaya, hingga berpotensi besar untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan dengan keadaan yang sangat tinggi kadar garamnya,” tambahnya, seperti yang ditulis oleh Cell Press (28/10/2014). 

Salinitas tanah telah menurunkan produktivitas tumbuhan penghasil pangan sebesar 3 hektar lahan pertanian tanaman pangan konvensional setiap menitnya. Hal ini tentu saja sangat merugikan sektor pertanian sebesar  miliaran dolar per tahun. Bukan hanya meruikan secara ekonomi, peristiwa tersebut juga kemampuan sektor pertanian untuk memenuhi target ketersediaan pangan untuk 9,3 miliar orang pada tahun 2050. Sayangnya, pada beberapa dekadeini, rekayasa teknologi yang menghasilkan tanaman pangan yang mentoleransi salinitas belum menemukan titik yang pasti.
Dr. Shabala dan rekan-rekannya menegaskan bahwa harus ada penelitian yang mampu mengambil inspirasi dari salt bladder tanaman halofil dan memasangkannya secara genetis pada tanaman seperti jagung, padi dan gandum. Hingga tanaman pangan tersebut mampu mengembangkan kemampuan mentolerensi garam tanpa mengubah jalur metabolisme atau fisiologis utamanya.

Dan ide brilian dari Profersor Shabala mendapat dukungan dari penemuan Prof. Rainer Hedrich, dari Institute for Molecular Plant Physiology and Biophysics, di Würzburg, Jerman. Tim yang dipimpin oleh Prof. Hedrich tersebut menemukan jenis gen yang bertanggung jawab terhadap modifikasi trikoma (rambut-rambut atau duri pada tumbuhan) menjadi salt bladder serta kontrol dari ekspresi dari gen yang terkait. Prof, Hendich menambahkan, bahwa gen tersebut dapat dipasangkan pada tanaman pangan hingga mampu menghasilkan salt bladdernya sendiri.