Mengkonversi Cahaya Matahari Menjadi BBM dengan Daun Bionik

Energi cahaya yang dipancarkan oleh Matahari dapat digunakan sebagai sumber energi dalam bentuk cair dengan memanfaatkan proses fotovoltasi. Proses fotovoltasi tersebut memang gagal “menangkap” hidrogen yang dewasa ini digunakan dalam industri mobil hibrida.

Tentu saja, ilmuwan penggiat bioenergi tak kehilangan akal. Sekelompok ilmuan dari Harvard University menemukan metode yang mampu menghasilkan bahan bakar cair menggunakan bakteri, yang mereka sebut sebagai “artifical leaf” atau “bionic leaf”. Penamaan tersebut merujuk pada kemampuan organisme fotosintetik mengkonversi energi cahaya matahari menjadi senyawa organik.
Bakteri tersebut mampu memecah air menjadi oksigen dan hidrogen melalui proses fotolisis. selanjutnya, hidrogen yang dihasilkan akan dikonversi menjadi senyawa organik cair yakni isopropanol. Tim yang dipimpin oleh Pamela Silver, the Elliott T. dan Onie H. Adams ini berhasil membuktikan konsep sederhana bahwa energi cahaya matahari dapat disimpan dalam bentuk bahan bakar cair.
Langkah selanjutnya adalah mendesain prototipe konventor baru yang lebih sederhana. “Kami tidak ingin membuat sistem yang super kompleks, sebaliknya, Kami memimpikan sebuah sistem yang simpel dan efisien,” terang Silver. Nocera menambahkan, “oleh karena itu, Kami menggunakan bakteri yang memiliki pertumbuhan cepat dan cocok ditumbuhkan dalam kondisi apapun.”
Tantangan berikutnya adalah untuk meningkatkan kemampuan daun bionik tersebut mengkonversi energi cahaya menjadi bahan bakar biomassa (BBM) dengan mengoptimalkan kemampuan bakteri terkait dalam mengkatalis pemecahan air menjadi oksigen dan hidrogen serta pembentukan isopropanol. Efisiensi awal yang mereka dapat hanya 1% saja. Tujuan utama mereka adalah mencapai efisiensi sebesar 5% (5% BBM dari total energi matahari yang digunakan).

“Kami telah hampir mencapai efisiensi 1%,” tambah Nocera, “dengan mencuri ide dari hasil evolusi selama 2.6 Milyar tahun, Kami telah mencapai setengah dari efisiensi fotosintesis” tegas Nocera dalam akhir wawancara oleh Harvard Medical School

Leave a Comment